DESA Bontotangnga, Kecamatan Sinjai Borong,
Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan merupakan wilayah pegunungan yang kaya
tanaman kop.
Melimpahnya tanaman kopi itulah yang
dimanfaatkan oleh Syamsul Bahri. Mantan guru sukarela yang pernah mengajar di
sejumlah sekolah di kabupaten sinjai ini, membeli kopi milik warga untuk diolah
menjadi kopi bubuk.
Ide pengolahan kopi dimulai Syamsul Bahri
sejak tahun 2002 silam. Lelaki berusia 83 tahun ini memberanikan diri membuat
usaha dengan modal seadanya lantaran melihat potensi kopi di desanya begitu melimpah.
Bersama istrinya, Asiah, Syamsul Bahri membeli kopi dari kebun-kebun warga.
Selanjutnya, ia membawa pulang ke rumah untuk diolah menjadi kopi bubuk.
“Saya melihat selama ini di borong,
banyak kopi yang dihasilkan oleh petani tapi itu dimanfaatkan oleh orang luar,
jadi saya mengambil inisiatif untuk melakukan proses industri apalagi dibantu
oleh pemerintah dalam hal ini dinas perindustrian dan perdagangan,” ujar
Syamsul Bahri.
Bahan baku yang melimpah dan tingginya
permintaan kopi membuat usaha syamsul bahri terus berkembang. Kemudian mendirikan usaha dagang yang diberi merek Kopi Borong. Kini ia sudah
memiliki pabrik pembuatan kopi bubuk yang cukup terkenal di Sinjai. Ia menjadi
satu-satunya produsen kopi bubuk khas Sinjai Borong.
Kopi borong yang dipatenkan namanya oleh
Syamsul Bahri sering diikutkan dalam ajang pameran baik di tingkat kabupaten
dan provinsi. Kopi ini kerap dibawa untuk mewakili sinjai pada ajang pameran. Rasanya
yang khas membuat kopi yang satu ini terus diburu konsumen.
Hingga kini, Syamsul bahri memasarkan
kopinya ke toko-toko di Kabupaten Sinjai dan kabupaten lain di Sulawesi Selatan.
Usaha Dagang Kopi Borong milik alumni Sekolah Menengah Teknologi Industri Makassar
ini mempekerjakan sekurangnya sepuluh karyawan dengan gaji Rp.40.000,- sehari.
Dalam seharinya, produksi pabrik kopi milik Syamsul Bahri mencapai 700 bungkus
kopi bubuk ukuran 250 gram –omsetnya 80 hingga 100 juta setiap bulan.